Berikutini 9 puisi Sapardi dengan metafora alam yang menyentuh: Hujan Bulan Juni Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni Puisipertama karya Sapardi Djoko Damono yang akan kita bahas yaitu puisi berjudul "Aku Ingin". "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada." Prof Dr. Sapardi Djoko Damono merupakan seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka, yang lahir di Surakarta, pada tanggal 20 Maret 1940. Salah satu karyanya yakni: Sajak Kecil Tentang Cinta. Sapardi Djoko Damono pun seringkali dipanggil dengan sebutan berdasarkan singkatan namanya, yakni SDD. Kumpulanpuisi sapardi djoko damono 1. Kita Saksikan 2. Sajak Putih 3. Pertanyaan Kerikil Yang Goblok 4. Pada Suatu Magrib 5. Kenangan 5. Sonet 14 6. Sonet 4 7. Sonet, Entah Sejak Kapan 8. Pohon Belimbing 9. Hujan Dalam Komposisi, 2 10. Ketika Berhenti Disini 11. Dalam Kereta Bawah Tanah, Chicago 12. Narsisus 13. Taman Jepang, Honolulu 14. Lanskap EllinaWidayanti.0004Sajak TafsirKarya: Sapardi Djoko Damono Puisi Sajak Tafsir (Karya Sapardi Djoko Damono) Seakan Senja | Sajak Tafsir (1) Siapa gerangan berani menafsirkanku sebagai awan yang menjadi merah ketika senja? Aku batu. Kota boleh mengembara ke langit dan laut, aku tetap saja di sini. Siapa tahu untuk selamanya. Dan tidak boleh tidur, meskipun kadang-kadang memahami diri sendiri sebagai telur. Setiapbuku yang di karang oleh Sapardi Djoko Damono pasti akan memberikan sesuatu yang berbeda saat membacanya. Seperti buku "Melipat Jarak" yang berisi kumpulan sajak sejak tahun 1995 hingga 2015 karya Sapardi Djoko Damono, salah satu judul puisinya yang paling menarik yaitu Sajak-sajak kecil tentang cinta yang isinya adalah : TWD8Ka. Sebuah kata atau frasa dalam puisi biasanya menyimbolkan sesuatu karena pada dasarnya puisi adalah sebuah karya sastra yang multitafsir. Artinya, setiap kata atau frasanya dapat bermakna sesuatu. Namun, penyimbolan sebuah kata atau frasa dalam puisi juga dapat ditentukan melalui konteks yang berlaku dalam puisi tersebut secara keseluruhan. Dalam puisi “Sajak Tafsir” karya Sapardi Djoko Damono di atas, frasa selembar daun terakhir menyimbolkan seseorang yang berada di akhir usianya. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya baris-baris aku selembar daun terakhir yang ingin menyaksikanmu bahagia ketika sore tiba yang menyebut bahwa si aku liris ingin menyaksikan seseorang yang mungkin dia sayang sebelum ajalnya menjemput yang disimbolkan dengan ketika sore tiba. Jawaban A kurang tepat karena dapat dipastikan aku liris yang diikuti oleh frasa selembar daun terakhir menggambarkan seseorang karena adanya pronomina aku. Jawaban B kurang tepat karena jawaban tersebut tidak mengandung simbol apa pun. Jawaban C kurang tepat karena di bait terakhir frasa selembar daun terakhir memilikin harapan sehingga tidak mungkin bahwa frasa tersebut adalah harapannya itu sendiri. Jawaban E kurang tepat karena tidak mengandung simbol apa pun. Jadi, jawaban yang paling tepat adalah D. Puisi Sajak Putih Karya Sapardi Djoko Damono Sajak Putih Beribu saat dalam kenangan surut perlahan kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh sewaktu detik pun jatuh kita dengar bumi yang tua dalam setia Kasih tanpa suara sewaktu bayang-bayang kita memanjang mengabur batas ruang kita pun bisu tersekat dalam pesona sewaktu ia pun memanggil-manggil sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil di luar cuaca. Sumber Duka-Mu Abadi 1969Puisi Sajak PutihKarya Sapardi Djoko DamonoBiodata Sapardi Djoko DamonoSapardi Djoko Damono lahir pada tanggal 20 Maret 1940 di Solo, Jawa Djoko Damono meninggal dunia pada tanggal 19 Juli 2020.

puisi sajak tafsir karya sapardi djoko damono